Rabu, 07 Desember 2011
Wajah Negeri ini yang semakin muram...
Bunuh diri...apa yang terlintas dalam pikiran kita bila mendengar kata ini.
kaget, shock, atau berpikir? ini orang gila apa ya?
akan tetapi...itu yang terjadi di dalam negeri kita. saya melihat berita pagi ini:
begini bunyinya:
Metrotvnews.com, Jakarta: Seorang pria tak dikenal mencoba bunuh diri dengan melakukan aksi bakar diri, di depan Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (7/12) sore.
Kondisi pria yang belum diketahui identitasnya ini cukup memprihatinkan. Ia menderita luka bakar 90 persen atau hampir di sekujur tubuhnya. Sejumlah warga langsung membawanya ke RS Cipto Mangunkusumo, untuk menjalani perawatan intensif.
Aksi bakar diri pria yang diduga berumur 30 tahun dengan tinggi 170 cm ini berlangsung cepat. Menurut keterangan sejumlah saksi mata, pria tersebut menuju ke Istana Merdeka dengan berjalan dari arah Jalan Merdeka Barat, dengan tubuh yang telah dibasahi bensin. Tak lama kemudian, pria tersebut membakar dirinya dan terjatuh.
Polisi menyatakan motif aksi bakar diri di depan Istana tersebut, diduga murni karena percobaan bunuh diri dan tidak ada kaitannya dengan politik.
Apa benar tidak ada unsur politiknya...apakah kita dapat percaya begitu saja dengan media? cerminan negeri terletak pada masyarakatnya...apabila masyarakat menjadi seperti ini...apakah pemimpinnya sudah bertindak benar dalam rangka menjadikan negeri ini lebih baik.
Akankah 2014 nanti datang seorang pemimpin yang berjiwa ksatria yang mau mengorbankan pikiran dan tenaganya demi Bumi Persada ini yang semakin hari semakin bermuram durja...semoga saja...Allohuma Amien...
kaget, shock, atau berpikir? ini orang gila apa ya?
akan tetapi...itu yang terjadi di dalam negeri kita. saya melihat berita pagi ini:
begini bunyinya:
Metrotvnews.com, Jakarta: Seorang pria tak dikenal mencoba bunuh diri dengan melakukan aksi bakar diri, di depan Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (7/12) sore.
Kondisi pria yang belum diketahui identitasnya ini cukup memprihatinkan. Ia menderita luka bakar 90 persen atau hampir di sekujur tubuhnya. Sejumlah warga langsung membawanya ke RS Cipto Mangunkusumo, untuk menjalani perawatan intensif.
Aksi bakar diri pria yang diduga berumur 30 tahun dengan tinggi 170 cm ini berlangsung cepat. Menurut keterangan sejumlah saksi mata, pria tersebut menuju ke Istana Merdeka dengan berjalan dari arah Jalan Merdeka Barat, dengan tubuh yang telah dibasahi bensin. Tak lama kemudian, pria tersebut membakar dirinya dan terjatuh.
Polisi menyatakan motif aksi bakar diri di depan Istana tersebut, diduga murni karena percobaan bunuh diri dan tidak ada kaitannya dengan politik.
Apa benar tidak ada unsur politiknya...apakah kita dapat percaya begitu saja dengan media? cerminan negeri terletak pada masyarakatnya...apabila masyarakat menjadi seperti ini...apakah pemimpinnya sudah bertindak benar dalam rangka menjadikan negeri ini lebih baik.
Akankah 2014 nanti datang seorang pemimpin yang berjiwa ksatria yang mau mengorbankan pikiran dan tenaganya demi Bumi Persada ini yang semakin hari semakin bermuram durja...semoga saja...Allohuma Amien...
Tawa riuh rendah di gerbong kereta api
Pagi itu...kereta api KRD Pondok Ranji-Kampung Bandan penuh sesak dengan penumpang yang akan menjalankan aktifitasnya di pagi hari. Sejenak kembali tersibak pengalaman masa laluku bersama teman-teman XMV 56 MLW, saat dimana kita pernah duduk bersama dengan kerumunan orang disini, yang mungkin tidak kita kenal satu dengan yang lainnya.
Perlahan waktu memisahkan kita untuk terus bersama. Reuni yang kedua pun tidak dapat aku hadiri karena jadwal yang terlalu padat. Kini, sendiri di pagi hari ini duduk sendiri kupesan secangkir kopi untuk menikmati pagi ini. Lalu lalang penumpang berlari bergegas untuk masuk kedalam kereta api ini...kereta api telah penuh...sesak oleh orang yang berdiri dan dan bergelantungan...akupun masuk dari jendela dibantu oleh seorang bapak-bapak...mata itu belum berubah...mata sayu yang terjaga dari penatnya dunia ...tetap membantu orang lain walaupun ia sendiri sepertinya sudah lelah dengan hidupnya tetapi tetap tegar menjalani hidup yag cuma sekali ini.
Aku masuk dari jendela itu...bau yang khas, bau sampah yang sangit langsung tercium sesaat masuk ke dalam. Memang sudah terbiasa dengan bau seperti itu...di dalam kereta dengan bau sampah dan peluh keringat itupun, kami masih bisa tertawa dan bercanda dengan aneka ragam canda dan tawa.
Sampai ada yang membuat BOM dari koran...dilempar kesana-kemari...bentuk dari sikap tidak percayanya masyarakat akan Pemerintahan di Negeri ini. Ironis sekali memang dunia ini...setiap hari kita di jejali dengan aneka ragam informasi yang mungkin tidak terlalu penting untuk kita dengarkan, sudah jadi santapan umum rakyat...Sebuah Retorika dari Pemerintahan Orde apalagi di negeri yang kita sangat cintai ini...INDONESIA RAYA, BELA TANAH AIR DAN BUMI PERTIWI SAMPAI TETES DARAH PENGHABISAN!!!!!
Perlahan waktu memisahkan kita untuk terus bersama. Reuni yang kedua pun tidak dapat aku hadiri karena jadwal yang terlalu padat. Kini, sendiri di pagi hari ini duduk sendiri kupesan secangkir kopi untuk menikmati pagi ini. Lalu lalang penumpang berlari bergegas untuk masuk kedalam kereta api ini...kereta api telah penuh...sesak oleh orang yang berdiri dan dan bergelantungan...akupun masuk dari jendela dibantu oleh seorang bapak-bapak...mata itu belum berubah...mata sayu yang terjaga dari penatnya dunia ...tetap membantu orang lain walaupun ia sendiri sepertinya sudah lelah dengan hidupnya tetapi tetap tegar menjalani hidup yag cuma sekali ini.
Aku masuk dari jendela itu...bau yang khas, bau sampah yang sangit langsung tercium sesaat masuk ke dalam. Memang sudah terbiasa dengan bau seperti itu...di dalam kereta dengan bau sampah dan peluh keringat itupun, kami masih bisa tertawa dan bercanda dengan aneka ragam canda dan tawa.
Sampai ada yang membuat BOM dari koran...dilempar kesana-kemari...bentuk dari sikap tidak percayanya masyarakat akan Pemerintahan di Negeri ini. Ironis sekali memang dunia ini...setiap hari kita di jejali dengan aneka ragam informasi yang mungkin tidak terlalu penting untuk kita dengarkan, sudah jadi santapan umum rakyat...Sebuah Retorika dari Pemerintahan Orde apalagi di negeri yang kita sangat cintai ini...INDONESIA RAYA, BELA TANAH AIR DAN BUMI PERTIWI SAMPAI TETES DARAH PENGHABISAN!!!!!
Selasa, 22 November 2011
Mengatasi rasa BOSAN
Sebuah cara yang logis untuk mengatasi perasaan bosan atau bete adalah dengan mencari sesuatu yang menggairahkan untuk di lakukan.
Kebosanan atau perasaan bosan terhadap sesuatu hal meskipun sepele tapi bisa juga berdampak serius, yang mengakibatkan terbengkalai-nya hal-hal yang mestinya di selesaikan.
Berikut sebuah cerita bijak sebagai bahan inspirasi dan motivasi :
Seorang tua yang bijak ditanya oleh tamunya.
Tamu :"Sebenarnya apa itu perasaan 'bosan', pak tua?"
Pak Tua :
"Bosan adalah keadaan dimana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu."
Tamu :"Kenapa kita merasa bosan?"
Pak Tua :"Karena kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki."
Tamu :"Bagaimana menghilangkan kebosanan?"
Pak Tua : "Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya."
Tamu :"Bagaimana mungkin bisa menikmati kebosanan?"
Pak Tua: "Bertanyalah pada dirimu sendiri: mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?"
Tamu :"Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua."
Pak Tua : "Benar sekali, anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang."
Tamu: "Bagaimana menambahkan hal baru dalam rutinitas?"
Pak Tua : "Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. Kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan seterusnya."
Lalu Tamu itu pun pergi.
Beberapa hari kemudian Tamu itu mengunjungi Pak Tua lagi.
Tamu : "Pak tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?"
Pak Tua :"Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan."
Tamu :"Contohnya? "
Pak Tua :"Mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu."
Lalu Tamu itu pun pergi.
Beberapa minggu kemudian, Tamu itu datang lagi ke rumah Pak Tua.
Tamu :
"Pak tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain
sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaibanpun terjadi.
Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun di saat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?"
Sambil tersenyum Pak Tua berkata:
"Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan. Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil agar pikiranmu menjadi ceria. Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan. Segala sesuatu berasal dari pikiran. Berpikir bosan menyebabkan kau bosan. Berpikir ceria menjadikan kamu ceria.
Kebosanan atau perasaan bosan terhadap sesuatu hal meskipun sepele tapi bisa juga berdampak serius, yang mengakibatkan terbengkalai-nya hal-hal yang mestinya di selesaikan.
Berikut sebuah cerita bijak sebagai bahan inspirasi dan motivasi :
Seorang tua yang bijak ditanya oleh tamunya.
Tamu :"Sebenarnya apa itu perasaan 'bosan', pak tua?"
Pak Tua :
"Bosan adalah keadaan dimana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu."
Tamu :"Kenapa kita merasa bosan?"
Pak Tua :"Karena kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki."
Tamu :"Bagaimana menghilangkan kebosanan?"
Pak Tua : "Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya."
Tamu :"Bagaimana mungkin bisa menikmati kebosanan?"
Pak Tua: "Bertanyalah pada dirimu sendiri: mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?"
Tamu :"Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua."
Pak Tua : "Benar sekali, anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang."
Tamu: "Bagaimana menambahkan hal baru dalam rutinitas?"
Pak Tua : "Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. Kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan seterusnya."
Lalu Tamu itu pun pergi.
Beberapa hari kemudian Tamu itu mengunjungi Pak Tua lagi.
Tamu : "Pak tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?"
Pak Tua :"Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan."
Tamu :"Contohnya? "
Pak Tua :"Mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu."
Lalu Tamu itu pun pergi.
Beberapa minggu kemudian, Tamu itu datang lagi ke rumah Pak Tua.
Tamu :
"Pak tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain
sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaibanpun terjadi.
Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun di saat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?"
Sambil tersenyum Pak Tua berkata:
"Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan. Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil agar pikiranmu menjadi ceria. Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan. Segala sesuatu berasal dari pikiran. Berpikir bosan menyebabkan kau bosan. Berpikir ceria menjadikan kamu ceria.
Sabtu, 19 November 2011
ADHD
Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD)
ADD; ADHD; Childhood hyperkinesis
ADHD is a problem with inattentiveness, over-activity, impulsivity, or a combination. For these problems to be diagnosed as ADHD, they must be out of the normal range for a child's age and development.
Causes, incidence, and risk factors
ADHD is the most commonly diagnosed behavioral disorder of childhood. It affects about 3 - 5% of school aged children. ADHD is diagnosed much more often in boys than in girls.
ADHD may run in families, but it is not clear exactly what causes it. Whatever the cause may be, it seems to be set in motion early in life as the brain is developing. Imaging studies suggest that the brains of children with ADHD are different from those of other children.
Depression, lack of sleep, learning disabilities, tic disorders, and behavior problems may be confused with, or appear with, ADHD. Every child suspected of having ADHD should be carefully examined by a doctor to rule out possible other conditions or reasons for the behavior.
Most children with ADHD also have at least one other developmental or behavioral problem. They may also have a psychiatric problem, such as depression or bipolar disorder.
Symptoms
The symptoms of ADHD fall into three groups:
Lack of attention (inattentiveness)
Hyperactivity
Impulsive behavior (impulsivity)
Some children with ADHD primarily have the inattentive type. Others may have a combination of types. Those with the inattentive type are less disruptive and are more likely to not be diagnosed with ADHD.
Inattentive symptoms
Fails to give close attention to details or makes careless mistakes in schoolwork
Has difficulty keeping attention during tasks or play
Does not seem to listen when spoken to directly
Does not follow through on instructions and fails to finish schoolwork, chores, or duties in the workplace
Has difficulty organizing tasks and activities
Avoids or dislikes tasks that require sustained mental effort (such as schoolwork)
Often loses toys, assignments, pencils, books, or tools needed for tasks or activities
Is easily distracted
Is often forgetful in daily activities
Hyperactivity symptoms:
Fidgets with hands or feet or squirms in seat
Leaves seat when remaining seated is expected
Runs about or climbs in inappropriate situations
Has difficulty playing quietly
Is often "on the go," acts as if "driven by a motor," talks excessively
Impulsivity symptoms:
Blurts out answers before questions have been completed
Has difficulty awaiting turn
Interrupts or intrudes on others (butts into conversations or games)
Signs and tests
Too often, difficult children are incorrectly labeled with ADHD. On the other hand, many children who do have ADHD remain undiagnosed. In either case, related learning disabilities or mood problems are often missed. The American Academy of Pediatrics (AAP) has issued guidelines to bring more clarity to this issue.
The diagnosis is based on very specific symptoms, which must be present in more than one setting.
Children should have at least 6 attention symptoms or 6 hyperactivity/impulsivity symptoms, with some symptoms present before age 7.
The symptoms must be present for at least 6 months, seen in two or more settings, and not caused by another problem.
The symptoms must be severe enough to cause significant difficulties in many settings, including home, school, and in relationships with peers.
In older children, ADHD is in partial remission when they still have symptoms but no longer meet the full definition of the disorder.
The child should have an evaluation by a doctor if ADHD is suspected. Evaluation may include:
Parent and teacher questionnaires (for example, Connors, Burks)
Psychological evaluation of the child AND family, including IQ testing and psychological testing
Complete developmental, mental, nutritional, physical, and psychosocial examination
Treatment
Treating ADHD is a partnership between the health care provider, parents or caregivers, and the child. For therapy to succeed, it is important to:
Set specific, appropriate target goals to guide therapy.
Start medication and behavior therapy.
Follow-up regularly with the doctor to check on goals, results, and any side effects of medications. During these check-ups, information should be gathered from parents, teachers, and the child.
If treatment does not appear to work, the health care provider should:
Make sure the child indeed has ADHD
Check for other, possible medical conditions that can cause similiar symptoms
Make sure the treatment plan is being followed
MEDICATIONS
A combination of medication and behavioral treatment works best. There are several different types of ADHD medications that may be used alone or in combination.
Psychostimulants (also known as stimulants) are the most commonly used ADHD drugs. Although these drugs are called stimulants, they actually have a calming effect on people with ADHD.
These drugs include:
Amphetamine-dextroamphetamine (Adderall)
Dexmethylphenidate (Focalin)
Dextroamphetamine (Dexedrine, Dextrostat)
Lisdexamfetamine (Vyvanse)
Methylphenidate (Ritalin, Concerta, Metadate, Daytrana)
A nonstimulant drug called atomoxetine (Strattera) may work as well as stimulants, and may be less likely to be misused.
Some ADHD medicines have been linked to rare sudden death in children with heart problems. Talk to your doctor about which drug is best for your child.
BEHAVIOR THERAPY
Talk therapy for both the child and family can help everyone understand and gain control of the stressful feelings related to ADHD.
Parents should use a system of rewards and consequences to help guide their child's behavior. It is important to learn to handle disruptive behaviors. Support groups can help you connect with others who have similar problems.
Other tips to help your child with ADHD include:
Communicate regularly with the child's teacher.
Keep a consistent daily schedule, including regular times for homework, meals, and outdoor activities. Make changes to the schedule in advance and not at the last moment.
Limit distractions in the child's environment.
Make sure the child gets a healthy, varied diet, with plenty of fiber and basic nutrients.
Make sure the child gets enough sleep.
Praise and reward good behavior.
Provide clear and consistent rules for the child.
Alternative treatments for ADHD have become popular, including herbs, supplements, and chiropractic treatments. However, there is little or no solid evidence that these work.
Expectations (prognosis)
ADHD is a long-term, chronic condition. If it is not treated appropriately, ADHD may lead to:
Drug and alcohol abuse
Failure in school
Problems keeping a job
Trouble with the law
About half of children with ADHD will continue to have troublesome symptoms of inattention or impulsivity as adults. However, adults are often more capable of controlling behavior and masking difficulties.
Calling your health care provider
Call your doctor if you or your child's school personnel suspect ADHD. You should also tell your doctor about any:
Difficulties at home, school, and in relationships with peers
Medication side effects
Signs of depression
Prevention
Although there is no proven way to prevent ADHD, early identification and treatment can prevent many of the problems associated with ADHD.
References
Pliszka S; AACAP Work Group on Quality Issues. Practice parameter for the assessment and treatment of children and adolescents with attention-deficit/hyperactivity disorder. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry. 2007 Jul;46(7):894-921. [PubMed]
Prince JB, Spencer TJ, Wilens TE, Biederman J. Pharmacotherapy of attention-deficit/hyperactivity disorder across the life span. In: Stern TA, Rosenbaum JF, Fava M, Biederman J, Rauch SL, eds. Massachusetts General Hospital Comprehensive Clinical Psychiatry. 1st ed. Philadelphia, Pa: Mosby Elsevier; 2008:chap 49.
From: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0002518
ADD; ADHD; Childhood hyperkinesis
ADHD is a problem with inattentiveness, over-activity, impulsivity, or a combination. For these problems to be diagnosed as ADHD, they must be out of the normal range for a child's age and development.
Causes, incidence, and risk factors
ADHD is the most commonly diagnosed behavioral disorder of childhood. It affects about 3 - 5% of school aged children. ADHD is diagnosed much more often in boys than in girls.
ADHD may run in families, but it is not clear exactly what causes it. Whatever the cause may be, it seems to be set in motion early in life as the brain is developing. Imaging studies suggest that the brains of children with ADHD are different from those of other children.
Depression, lack of sleep, learning disabilities, tic disorders, and behavior problems may be confused with, or appear with, ADHD. Every child suspected of having ADHD should be carefully examined by a doctor to rule out possible other conditions or reasons for the behavior.
Most children with ADHD also have at least one other developmental or behavioral problem. They may also have a psychiatric problem, such as depression or bipolar disorder.
Symptoms
The symptoms of ADHD fall into three groups:
Lack of attention (inattentiveness)
Hyperactivity
Impulsive behavior (impulsivity)
Some children with ADHD primarily have the inattentive type. Others may have a combination of types. Those with the inattentive type are less disruptive and are more likely to not be diagnosed with ADHD.
Inattentive symptoms
Fails to give close attention to details or makes careless mistakes in schoolwork
Has difficulty keeping attention during tasks or play
Does not seem to listen when spoken to directly
Does not follow through on instructions and fails to finish schoolwork, chores, or duties in the workplace
Has difficulty organizing tasks and activities
Avoids or dislikes tasks that require sustained mental effort (such as schoolwork)
Often loses toys, assignments, pencils, books, or tools needed for tasks or activities
Is easily distracted
Is often forgetful in daily activities
Hyperactivity symptoms:
Fidgets with hands or feet or squirms in seat
Leaves seat when remaining seated is expected
Runs about or climbs in inappropriate situations
Has difficulty playing quietly
Is often "on the go," acts as if "driven by a motor," talks excessively
Impulsivity symptoms:
Blurts out answers before questions have been completed
Has difficulty awaiting turn
Interrupts or intrudes on others (butts into conversations or games)
Signs and tests
Too often, difficult children are incorrectly labeled with ADHD. On the other hand, many children who do have ADHD remain undiagnosed. In either case, related learning disabilities or mood problems are often missed. The American Academy of Pediatrics (AAP) has issued guidelines to bring more clarity to this issue.
The diagnosis is based on very specific symptoms, which must be present in more than one setting.
Children should have at least 6 attention symptoms or 6 hyperactivity/impulsivity symptoms, with some symptoms present before age 7.
The symptoms must be present for at least 6 months, seen in two or more settings, and not caused by another problem.
The symptoms must be severe enough to cause significant difficulties in many settings, including home, school, and in relationships with peers.
In older children, ADHD is in partial remission when they still have symptoms but no longer meet the full definition of the disorder.
The child should have an evaluation by a doctor if ADHD is suspected. Evaluation may include:
Parent and teacher questionnaires (for example, Connors, Burks)
Psychological evaluation of the child AND family, including IQ testing and psychological testing
Complete developmental, mental, nutritional, physical, and psychosocial examination
Treatment
Treating ADHD is a partnership between the health care provider, parents or caregivers, and the child. For therapy to succeed, it is important to:
Set specific, appropriate target goals to guide therapy.
Start medication and behavior therapy.
Follow-up regularly with the doctor to check on goals, results, and any side effects of medications. During these check-ups, information should be gathered from parents, teachers, and the child.
If treatment does not appear to work, the health care provider should:
Make sure the child indeed has ADHD
Check for other, possible medical conditions that can cause similiar symptoms
Make sure the treatment plan is being followed
MEDICATIONS
A combination of medication and behavioral treatment works best. There are several different types of ADHD medications that may be used alone or in combination.
Psychostimulants (also known as stimulants) are the most commonly used ADHD drugs. Although these drugs are called stimulants, they actually have a calming effect on people with ADHD.
These drugs include:
Amphetamine-dextroamphetamine (Adderall)
Dexmethylphenidate (Focalin)
Dextroamphetamine (Dexedrine, Dextrostat)
Lisdexamfetamine (Vyvanse)
Methylphenidate (Ritalin, Concerta, Metadate, Daytrana)
A nonstimulant drug called atomoxetine (Strattera) may work as well as stimulants, and may be less likely to be misused.
Some ADHD medicines have been linked to rare sudden death in children with heart problems. Talk to your doctor about which drug is best for your child.
BEHAVIOR THERAPY
Talk therapy for both the child and family can help everyone understand and gain control of the stressful feelings related to ADHD.
Parents should use a system of rewards and consequences to help guide their child's behavior. It is important to learn to handle disruptive behaviors. Support groups can help you connect with others who have similar problems.
Other tips to help your child with ADHD include:
Communicate regularly with the child's teacher.
Keep a consistent daily schedule, including regular times for homework, meals, and outdoor activities. Make changes to the schedule in advance and not at the last moment.
Limit distractions in the child's environment.
Make sure the child gets a healthy, varied diet, with plenty of fiber and basic nutrients.
Make sure the child gets enough sleep.
Praise and reward good behavior.
Provide clear and consistent rules for the child.
Alternative treatments for ADHD have become popular, including herbs, supplements, and chiropractic treatments. However, there is little or no solid evidence that these work.
Expectations (prognosis)
ADHD is a long-term, chronic condition. If it is not treated appropriately, ADHD may lead to:
Drug and alcohol abuse
Failure in school
Problems keeping a job
Trouble with the law
About half of children with ADHD will continue to have troublesome symptoms of inattention or impulsivity as adults. However, adults are often more capable of controlling behavior and masking difficulties.
Calling your health care provider
Call your doctor if you or your child's school personnel suspect ADHD. You should also tell your doctor about any:
Difficulties at home, school, and in relationships with peers
Medication side effects
Signs of depression
Prevention
Although there is no proven way to prevent ADHD, early identification and treatment can prevent many of the problems associated with ADHD.
References
Pliszka S; AACAP Work Group on Quality Issues. Practice parameter for the assessment and treatment of children and adolescents with attention-deficit/hyperactivity disorder. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry. 2007 Jul;46(7):894-921. [PubMed]
Prince JB, Spencer TJ, Wilens TE, Biederman J. Pharmacotherapy of attention-deficit/hyperactivity disorder across the life span. In: Stern TA, Rosenbaum JF, Fava M, Biederman J, Rauch SL, eds. Massachusetts General Hospital Comprehensive Clinical Psychiatry. 1st ed. Philadelphia, Pa: Mosby Elsevier; 2008:chap 49.
From: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0002518
Jumat, 25 Desember 2009
Kegelapan Malam
Ketika malam menjelang...
Ketika semua terlelap...
Ketika dendam terhapus...
Ketika damai menjelang...
Dingin menusuk kalbu...
Sepi menemani sebagai sahabat sejati...
Gundah menghilang seiring waktu berjalan...
Suara hati pun menyeruak ke dalam sanubari...
Banyak yang terlupa...
Banyak yang aneh...
Banyak yang menghilang...
Banyak yang berubah...
Suara alam raya pada jam tiga pagi...
Mengantarkan ku ke dalam satu emosi...
Damai...tenang...tenteram...
dan pada akhirnya hening...yang terasa...
Menyelimuti hati yang terluka...
Membalut diri dengan cara yang tidak dapat dibayangkan...
Pelan tapi pasti...mengantarkanku pada suatu titik nadir di bumi...
Tidak terelakkan...mengharuskan yang tadinya tersamar dalam kabut hitam...
Heningnya Malam Ini...
Sepi dan sunyi memberikan inspirasi...
Untuk melangkahkan kaki ini...
Walaupun saat ini mungkin tidak akan kembali lagi...
Aku akan terus melangkah...
Aku akan terus mencoba...
Aku akan percaya pada harapan suci...
Aku akan dapat menaklukkan egoku...
Aku...hanya akan menjadi diriku sendiri...
...di malam ini...
Ketika semua terlelap...
Ketika dendam terhapus...
Ketika damai menjelang...
Dingin menusuk kalbu...
Sepi menemani sebagai sahabat sejati...
Gundah menghilang seiring waktu berjalan...
Suara hati pun menyeruak ke dalam sanubari...
Banyak yang terlupa...
Banyak yang aneh...
Banyak yang menghilang...
Banyak yang berubah...
Suara alam raya pada jam tiga pagi...
Mengantarkan ku ke dalam satu emosi...
Damai...tenang...tenteram...
dan pada akhirnya hening...yang terasa...
Menyelimuti hati yang terluka...
Membalut diri dengan cara yang tidak dapat dibayangkan...
Pelan tapi pasti...mengantarkanku pada suatu titik nadir di bumi...
Tidak terelakkan...mengharuskan yang tadinya tersamar dalam kabut hitam...
Heningnya Malam Ini...
Sepi dan sunyi memberikan inspirasi...
Untuk melangkahkan kaki ini...
Walaupun saat ini mungkin tidak akan kembali lagi...
Aku akan terus melangkah...
Aku akan terus mencoba...
Aku akan percaya pada harapan suci...
Aku akan dapat menaklukkan egoku...
Aku...hanya akan menjadi diriku sendiri...
...di malam ini...
Jumat, 11 Desember 2009
Sleep Paralysis
Pernah terbangun dari tidur, tapi sulit bergerak ataupun berteriak? Tenang, Anda bukan sedang diganggu mahkluk halus. Ini penjelasan ilmiahnya!
KEJADIAN ini sering saya alami sejak zaman SMA, bahkan hingga sekarang (meski frekuensinya sudah sangat berkurang). Saat hendak bangun dari tidur atau baru saja terlelap, saya merasa seperti ditindih sesuatu. Ini membuat saya sulit bangun ataupun berteriak minta tolong.
Lalu, ada sedikit rasa dingin menjalar dari ujung kaki ke seluruh tubuh. Untuk bisa bangun, satu-satunya cara adalah menggerakkan ujung kaki, ujung tangan atau kepala sekencang-kencangnya hingga seluruh tubuh bisa digerakkan kembali.
Setelah itu, biasanya saya tidak berani tidur. Takut kesadaran saya hilang atau kejadian itu berulang lagi. Apalagi saat kejadian, saya seperti melihat sebuah bayangan di kegelapan.
Pernah saya saya bercerita tentang hal ini pada ibu saya. Beliau mengatakan saya mengalami tindihan. Dan menurut kepercayaan orang tua, yang menindih adalah makhluk halus. Ih, seram ya! Namun, logika saya berusaha mencari penjelasan ilmiah. Inilah hasilnya
Sleep Paralysis
Menurut medis, keadaan ketika orang akan tidur atau bangun tidur merasa sesak napas seperti dicekik, dada sesak, badan sulit bergerak dan sulit berteriak disebut sleep paralysis alias tidur lumpuh (karena tubuh tak bisa bergerak dan serasa lumpuh). Hampir setiap orang pernah mengalaminya. Setidaknya sekali atau dua kali dalam hidupnya.
Sleep paralysis bisa terjadi pada siapa saja, lelaki atau perempuan. Dan usia rata-rata orang pertama kali mengalami gangguan tidur ini adalah 14-17 tahun. Sleep paralysis alias tindihan ini memang bisa berlangsung dalam hitungan detik hingga menit. Yang menarik, saat tindihan terjadi kita sering mengalami halusinasi, seperti melihat sosok atau bayangan hitam di sekitar tempat tidur. Tak heran, fenomena ini pun sering dikaitkan dengan hal mistis.
Di dunia Barat, fenomena tindihan sering disebut mimpi buruk inkubus atau old hag berdasarkan bentuk bayangan yang muncul. Ada juga yang merasa melihat agen rahasia asing atau alien. Sementara di beberapa lukisan abad pertengahan, tindihan digambarkan dengan sosok roh jahat menduduki dada seorang perempuan hingga ia ketakutan dan sulit bernapas.
Kurang Tidur
Menurut Al Cheyne, peneliti dari Universitas Waterloo, Kanada, sleep paralysis, adalah sejenis halusinasi karena adanya malfungsi tidur di tahap rapid eye movement (REM).
Sebagai pengetahuan, berdasarkan gelombang otak, tidur terbagi dalam 4 tahapan. Tahapan itu adalah tahap tidur paling ringan (kita masih setengah sadar), tahap tidur yang lebih dalam, tidur paling dalam dan tahap REM. Pada tahap inilah mimpi terjadi.
Saat kondisi tubuh terlalu lelah atau kurang tidur, gelombang otak tidak mengikuti tahapan tidur yang seharusnya. Jadi, dari keadaan sadar (saat hendak tidur) ke tahap tidur paling ringan, lalu langsung melompat ke mimpi (REM).
Ketika otak mendadak terbangun dari tahap REM tapi tubuh belum, di sinilah sleep paralysis terjadi. Kita merasa sangat sadar, tapi tubuh tak bisa bergerak. Ditambah lagi adanya halusinasi muncul sosok lain yang sebenarnya ini merupakan ciri khas dari mimpi.
Selain itu, sleep paralysis juga bisa disebabkan sesuatu yang tidak dapat dikontrol. Akibatnya, muncul stres dan terbawa ke dalam mimpi. Lingkungan kerja pun ikut berpengaruh. Misalnya, Anda bekerja dalam shift sehingga kekurangan tidur atau memiliki pola tidur yang tidak teratur.
Jangan Anggap Remeh
Meski biasa terjadi, gangguan tidur ini patut diwaspadai. Pasalnya, sleep paralysis bisa juga merupakan pertanda narcolepsy (serangan tidur mendadak tanpa tanda-tanda mengantuk), sleep apnea (mendengkur), kecemasan, atau depresi.
Jika Anda sering mengalami gangguan tidur ini, sebaiknya buat catatan mengenai pola tidur selama beberapa minggu. Ini akan membantu Anda mengetahui penyebabnya. Lalu, atasi dengan menghindari pemicu. Bila tindihan diakibatkan terlalu lelah, coba lebih banyak beristirahat.
Kurang tidur pun tidak boleh dianggap remeh. Jika sudah menimbulkan sleep paralysis, kondisinya berarti sudah berat. Segera evaluasi diri dan cukupi kebutuhan tidur. Usahakan tidur 8-10 jam pada jam yang sama setiap malam.
Perlu diketahui juga, seep paralysis umumnya terjadi pada orang yang tidur dalam posisi telentang (wajah menghadap ke atas dan hampir nyenyak atau dalam keadaan hampir terjaga dari tidur). Itu sebabnya, kita perlu sering mengubah posisi tidur untuk mengurangi risiko terserang gangguan tidur ini.
Nah, jika tindihan disertai gejala lain, ada baiknya segera ke dokter ahli tidur atau laboratorium tidur untuk diperiksa lebih lanjut. Biasanya dokter akan menanyakan kapan tindihan dimulai dan sudah berlangsung berapa lama. Catatan yang telah Anda buat tadi akan sangat membantu ketika memeriksakan diri ke dokter.
Mitos Sleep Paralysis Di Berbagai Negara
- Di budaya Afro-Amerika, gangguan tidur ini disebut the devil riding your back hantu atau hantu yang sedang menaiki bahu seseorang.
- Di budaya China, disebut gui ya shen alias gangguan hantu yang menekan tubuh seseorang.
- Di budaya Meksiko, disebut se me subio el muerto dan dipercaya sebagai kejadian adanya arwah orang meninggal yang menempel pada seseorang.
- Di budaya Kamboja, Laos dan Thailand, disebut pee umm, mengacu pada kejadian di mana seseorang tidur dan bermimpi makhluk halus memegangi atau menahan tubuh orang itu untuk tinggal di alam mereka.
- Di budaya Islandia, disebut mara. Ini adalah kata kuno bahasa Island. Artinya hantu yang menduduki dada seseorang di malam hari, berusaha membuat orang itu sesak napas dan mati lemas.
- Di budaya Tuki, disebut karabasan, dipercaya sebagai makhluk yang menyerang orang di kala tidur, menekan dada orang tersebut dan mengambil napasnya.
- Di budaya Jepang, disebut kanashibari, yang secara literatur diartikan mengikat sehingga diartikan seseorang diikat oleh makhluk halus.
- Di budaya Vietnam, disebut ma de yang artinya dikuasai setan. Banyak penduduk Vietnam percaya gangguan ini terjadi karena makhluk halus merasuki tubuh seseorang.
- Di budaya Hungaria, disebut lidercnyomas dan dikaitkan dengan kata supranatural boszorkany (penyihir). Kata boszorkany sendiri berarti menekan sehingga kejadian ini diterjemahkan sebagai tekanan yang dilakukan makhluk halus pada seseorang di saat tidur.
- Di budaya Malta, gangguan tidur ini dianggap sebagai serangan oleh Haddiela (istri Hares), dewa bangsa Malta yang menghantui orang dengan cara merasuki orang tersebut. Dan untuk terhindar dari serangan Haddiela, seseorang harus menaruh benda dari perak atau sebuah pisau di bawah bantal saat tidur.
- Di budaya New Guinea, fenomena ini disebut Suk Ninmyo. Ini adalah pohon keramat yang hidup dari roh manusia. Pohon keramat ini akan memakan roh manusia di malam hari agar tidak menggangu manusia di siang hari. Namun, seringkali orang yang rohnya sedang disantap pohon ini terbangun dan terjadilah sleep paralysis.
From: Luvliu blog
KEJADIAN ini sering saya alami sejak zaman SMA, bahkan hingga sekarang (meski frekuensinya sudah sangat berkurang). Saat hendak bangun dari tidur atau baru saja terlelap, saya merasa seperti ditindih sesuatu. Ini membuat saya sulit bangun ataupun berteriak minta tolong.
Lalu, ada sedikit rasa dingin menjalar dari ujung kaki ke seluruh tubuh. Untuk bisa bangun, satu-satunya cara adalah menggerakkan ujung kaki, ujung tangan atau kepala sekencang-kencangnya hingga seluruh tubuh bisa digerakkan kembali.
Setelah itu, biasanya saya tidak berani tidur. Takut kesadaran saya hilang atau kejadian itu berulang lagi. Apalagi saat kejadian, saya seperti melihat sebuah bayangan di kegelapan.
Pernah saya saya bercerita tentang hal ini pada ibu saya. Beliau mengatakan saya mengalami tindihan. Dan menurut kepercayaan orang tua, yang menindih adalah makhluk halus. Ih, seram ya! Namun, logika saya berusaha mencari penjelasan ilmiah. Inilah hasilnya
Sleep Paralysis
Menurut medis, keadaan ketika orang akan tidur atau bangun tidur merasa sesak napas seperti dicekik, dada sesak, badan sulit bergerak dan sulit berteriak disebut sleep paralysis alias tidur lumpuh (karena tubuh tak bisa bergerak dan serasa lumpuh). Hampir setiap orang pernah mengalaminya. Setidaknya sekali atau dua kali dalam hidupnya.
Sleep paralysis bisa terjadi pada siapa saja, lelaki atau perempuan. Dan usia rata-rata orang pertama kali mengalami gangguan tidur ini adalah 14-17 tahun. Sleep paralysis alias tindihan ini memang bisa berlangsung dalam hitungan detik hingga menit. Yang menarik, saat tindihan terjadi kita sering mengalami halusinasi, seperti melihat sosok atau bayangan hitam di sekitar tempat tidur. Tak heran, fenomena ini pun sering dikaitkan dengan hal mistis.
Di dunia Barat, fenomena tindihan sering disebut mimpi buruk inkubus atau old hag berdasarkan bentuk bayangan yang muncul. Ada juga yang merasa melihat agen rahasia asing atau alien. Sementara di beberapa lukisan abad pertengahan, tindihan digambarkan dengan sosok roh jahat menduduki dada seorang perempuan hingga ia ketakutan dan sulit bernapas.
Kurang Tidur
Menurut Al Cheyne, peneliti dari Universitas Waterloo, Kanada, sleep paralysis, adalah sejenis halusinasi karena adanya malfungsi tidur di tahap rapid eye movement (REM).
Sebagai pengetahuan, berdasarkan gelombang otak, tidur terbagi dalam 4 tahapan. Tahapan itu adalah tahap tidur paling ringan (kita masih setengah sadar), tahap tidur yang lebih dalam, tidur paling dalam dan tahap REM. Pada tahap inilah mimpi terjadi.
Saat kondisi tubuh terlalu lelah atau kurang tidur, gelombang otak tidak mengikuti tahapan tidur yang seharusnya. Jadi, dari keadaan sadar (saat hendak tidur) ke tahap tidur paling ringan, lalu langsung melompat ke mimpi (REM).
Ketika otak mendadak terbangun dari tahap REM tapi tubuh belum, di sinilah sleep paralysis terjadi. Kita merasa sangat sadar, tapi tubuh tak bisa bergerak. Ditambah lagi adanya halusinasi muncul sosok lain yang sebenarnya ini merupakan ciri khas dari mimpi.
Selain itu, sleep paralysis juga bisa disebabkan sesuatu yang tidak dapat dikontrol. Akibatnya, muncul stres dan terbawa ke dalam mimpi. Lingkungan kerja pun ikut berpengaruh. Misalnya, Anda bekerja dalam shift sehingga kekurangan tidur atau memiliki pola tidur yang tidak teratur.
Jangan Anggap Remeh
Meski biasa terjadi, gangguan tidur ini patut diwaspadai. Pasalnya, sleep paralysis bisa juga merupakan pertanda narcolepsy (serangan tidur mendadak tanpa tanda-tanda mengantuk), sleep apnea (mendengkur), kecemasan, atau depresi.
Jika Anda sering mengalami gangguan tidur ini, sebaiknya buat catatan mengenai pola tidur selama beberapa minggu. Ini akan membantu Anda mengetahui penyebabnya. Lalu, atasi dengan menghindari pemicu. Bila tindihan diakibatkan terlalu lelah, coba lebih banyak beristirahat.
Kurang tidur pun tidak boleh dianggap remeh. Jika sudah menimbulkan sleep paralysis, kondisinya berarti sudah berat. Segera evaluasi diri dan cukupi kebutuhan tidur. Usahakan tidur 8-10 jam pada jam yang sama setiap malam.
Perlu diketahui juga, seep paralysis umumnya terjadi pada orang yang tidur dalam posisi telentang (wajah menghadap ke atas dan hampir nyenyak atau dalam keadaan hampir terjaga dari tidur). Itu sebabnya, kita perlu sering mengubah posisi tidur untuk mengurangi risiko terserang gangguan tidur ini.
Nah, jika tindihan disertai gejala lain, ada baiknya segera ke dokter ahli tidur atau laboratorium tidur untuk diperiksa lebih lanjut. Biasanya dokter akan menanyakan kapan tindihan dimulai dan sudah berlangsung berapa lama. Catatan yang telah Anda buat tadi akan sangat membantu ketika memeriksakan diri ke dokter.
Mitos Sleep Paralysis Di Berbagai Negara
- Di budaya Afro-Amerika, gangguan tidur ini disebut the devil riding your back hantu atau hantu yang sedang menaiki bahu seseorang.
- Di budaya China, disebut gui ya shen alias gangguan hantu yang menekan tubuh seseorang.
- Di budaya Meksiko, disebut se me subio el muerto dan dipercaya sebagai kejadian adanya arwah orang meninggal yang menempel pada seseorang.
- Di budaya Kamboja, Laos dan Thailand, disebut pee umm, mengacu pada kejadian di mana seseorang tidur dan bermimpi makhluk halus memegangi atau menahan tubuh orang itu untuk tinggal di alam mereka.
- Di budaya Islandia, disebut mara. Ini adalah kata kuno bahasa Island. Artinya hantu yang menduduki dada seseorang di malam hari, berusaha membuat orang itu sesak napas dan mati lemas.
- Di budaya Tuki, disebut karabasan, dipercaya sebagai makhluk yang menyerang orang di kala tidur, menekan dada orang tersebut dan mengambil napasnya.
- Di budaya Jepang, disebut kanashibari, yang secara literatur diartikan mengikat sehingga diartikan seseorang diikat oleh makhluk halus.
- Di budaya Vietnam, disebut ma de yang artinya dikuasai setan. Banyak penduduk Vietnam percaya gangguan ini terjadi karena makhluk halus merasuki tubuh seseorang.
- Di budaya Hungaria, disebut lidercnyomas dan dikaitkan dengan kata supranatural boszorkany (penyihir). Kata boszorkany sendiri berarti menekan sehingga kejadian ini diterjemahkan sebagai tekanan yang dilakukan makhluk halus pada seseorang di saat tidur.
- Di budaya Malta, gangguan tidur ini dianggap sebagai serangan oleh Haddiela (istri Hares), dewa bangsa Malta yang menghantui orang dengan cara merasuki orang tersebut. Dan untuk terhindar dari serangan Haddiela, seseorang harus menaruh benda dari perak atau sebuah pisau di bawah bantal saat tidur.
- Di budaya New Guinea, fenomena ini disebut Suk Ninmyo. Ini adalah pohon keramat yang hidup dari roh manusia. Pohon keramat ini akan memakan roh manusia di malam hari agar tidak menggangu manusia di siang hari. Namun, seringkali orang yang rohnya sedang disantap pohon ini terbangun dan terjadilah sleep paralysis.
From: Luvliu blog
Langganan:
Komentar (Atom)
